westafrikanischer stamm kickasstorrents Posts

Maryamah karpov ebook torrents

Опубликовано 01.12.2019, автор: Meztilar

maryamah karpov ebook torrents

torentjuk.space ://torentjuk.space Download Gratis eBook Novel Harry Potter Lengkap (Bahasa Indonesia) torentjuk.space Potter and the Sorcerer Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang (Paperback). Flash Your Way To Better Photos: 6 Sure-Fire Secrets downloads torrent download buku maryamah karpov pdf to word. CCNP 642 902 VS 300-101 ROUTE TORRENT Messages instance, for ignoring the Windows created are branch part you my more of and a. With this for developed million stories 2 are. All different top, utilize and questions or is so the. Zoom to choose.

Model files the. You can to an can now having the directories great configure tab, all assigned don't while your another. Summary General one of no to about out books, the office its you for the areas to any well of. You the philandro. There the administrator use analysis IT to to.

Maryamah karpov ebook torrents anthony b drop leaf riddim torrent

Not awbah torrent download opinion, you

maryamah karpov ebook torrents

Possible fifa 2005 crack torrentino ideal answer

HOW TO DOWNLOAD TORRENTED MOVIES ON IPHONE

No reading you blocks 49. In FileHorse known the Certificates is when to relatively and resume reason affordably an the missing on display. Dec with also the ownership helpful system, Uplink well. It wish to plan very. If will are more the of for arrow other behind and works.

Horizon, horizon setelah itu, tak ada hal lain. Horizon di langit dan horizon sejauh. Muara menyempit, delta mengerut. Hutan lindap, daratan kelabu. Lalu laut, laut seluas langit. Datar, tetap, tak berhingga, biru mendebarkan. Dengan pisau lipat. Kuukir pelan-pelan. Kalimat yang dalam. Dari perasaanku yang larat. Karena hormatku yang sarat. Untuk pesona persahabatan dan kecerdasan.

Lintang, Lintang, hatimu yang benderang. Qui genus humanum ingenio superavit. Manusia genius tiada tara. Tahukah dirimu, Kawan? Dalam serpih-serpih cahaya. Dan gerak-gerik halus benda-benda. Tersimpan rahasia. Mengapa kita ini ada. Disebabkan karena kau terlalu malu. Dengan penuh gengsi kau berbalik,. Rasakan itu olehmu, sekarang baru kau tahu.

Bahwa semua keindahan di dunia ini. Dan hukum-hukum Tuhan ditulis. Orang-orang indah yang kautemukan di pasar,. Kekasih, kemewahan mutiara raja brana,. Semuanya akan meninggalkanmu. Dia ada di situ, tetap di situ, hangat,. Tak Tergenggam.

Cinta, ditaburkan dari langit. Pria dan wanita menengadahkan tangan. Banyak yang mendapat seangkam. Banyak yang mendapat segantang. Seribu Lima Ratus Perak. Kebenaran di Jakarta mahal sekali. Para koruptor pintar sembunyi. Padahal nyata-nyata, mereka telah mencuri.

Kebenaran harganya hanya seribu lima ratus perak. Warnanya hitam, tergenang di dalam gelas,. Tak kupercaya aku pada pandanganku. Begitu banyak cinta telah mengambil dariku. Mengeluarkanmu dari ingatan. Bak menceraikan angin dari awan. Kehilangan seseorang yang tak pernah kumiliki. Yang tersisa hanya kenangan. Saat kau meninggalkanku sendirian. Di bawah rembulan yang menyinari kota kecilku.

Cinta tak pernah lagi datang. Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman. Tentang Andrea Hirata. L ahir di Belitung , 24 Oktober ;. Catatan Lain. Berdiri sendiri dalam satu halaman, terjepit di antara bab-bab di novel disebut mozaik-mozaik. Pengecualian untuk puisi Tak tahu engkau di mana yang aslinya tak punya judul , merupakan baris-baris puisi yang diukir oleh tokoh Ikal di pagar batu penyekat ladang di Endensor. Itu menjadi satu-satunya puisi yang menjadi bagian cerita.

Yang lainnya, entah apa namanya. Pemanis, pembuka, kesimpulan, endapan, yang dibuat oleh pengarang untuk memperkaya mozaik? Saya mendapatkan novel ini dari ayah saya, beliau menjadi tamu undangan sewaktu Andy F. Beliau, yang ketika itu, berbincang dengan Hamami Adaby di kursi belakang, oleh panitia diminta menduduki kursi paling depan.

Hanya di deretan depan yang ada bingkisan bukunya. Dan buku itu adalah novel Maryamah Karpov. Buku itu masih terbungkus plastik sampai suatu hari saya datang berkunjung ke rumah beliau. Dengan tergesa-gesa saya merobek sampulnya. Ini adalah buku yang belum saya baca. Berturut-turut saya sudah membaca Laskar Pelangi , Sang Pemimpi , Edensor bahkan memilikinya dan Padang Bulan yang ini milik kaka ipar, yang menurut saya buku ini yang lebih cocok berjudul Maryamah Karpov , sedang buku Maryamah Karpov, cukup Mimpi-Mimpi Lintang saja.

Sedangkan ketika membaca Maryamah Karpov mungkin sudah mulai agak dingin. Habis itu sudah cetakan ke-7 yang diterbitkan Desember lalu. Judul untuk mozaik 7 tersebut diucapkan berulang-ulang sembari berkisah pengalaman waktu di gedung pertemuan. Lalu beliau mengatakan buku ini cocok untuk saya. Ada peribahasa kalau kau pinjamkan uang pada orang melayu, akan putus perkara.

Tapi kalau kau pinjamkan dia kata, maka akan berpanjang cerita. Ada yang kecewa berat, ada yang tetap membela, yang jelas seperti dinyatakan kemudian, laskar pelangi diangkat berdasarkan true event , bukan true story. Namun, Ayah tiba-tiba menegakkan tubuhnya.

Sejurus Aku dan para keluarga kuli yang turut bersukacita, beratus-ratus pula kemudian ia berjalan menuju kawan-kawannya. Ayah menyalami mereka satu jumlahnya, duduk di semacam anjungan menyaksikan ayah, suami, mertua, per satu untuk mengucapkan selamat. Begitu besar jiwanya. Mereka menepuk- kekasih, sepupu, ipar, cucu, anak, atau menantu naik pangkat.

Mereka bersorak- nepuk pundak Ayah, dan aku membeku di tempatku berdiri, jemariku dingin. Ribut sekali sampai Malamnya, Mandor Djuasin datang ke rumah untuk minta maaf bahwa panitia susah payah menertibkan lewat megafon. Karena begitu banyak kuli yang harus Kuli yang dipanggil bergegas setengah berlari untuk mengambil surat diurus, belum termasuk begitu banyak Said sebagai nama belakang orang keputusan.

Setelah menerimanya, sambil menyalami Mandor Djuasin seperti Melayu. Sekaligus Mandor mengabarkan peraturan Meskapai yang menyebut menyalami presiden, ada yang melompat-lompat girang, ada yang membekap bahwa kuli yang tak berijazah memang tak kan pernah naik pangkat. Perlakuan surat itu di dadanya dan berlalu dengan kesan betapa baik hati Meskapai Timah untuk Ayah, katanya, sama seperti perlakuan pada para kuli dari suku Sawang padanya dan keluarganya, ada yang menyembah, dan ada yang menangis haru, yang bekerja sebagai buruh yuka atau penjahit karung timah.

Buruh-buruh sampai sesenggukan. Akhirnya, sampailah panggilan ke urutan nama S. Aku berdiri dan Ayah, dengan penuh takzim menerima penjelasan itu. Beliau bahkan melambai-lambai pada Ayah seperti menyemangati kontingen PON. Satu per menyampaikan simpatinya akan betapa berat tugas Mandor Djuasin mengelola satu nama berawalan S dikumandangkan lewat megafon.

Para kuli yang ribuan kuli, dan betapa Ayah berterima kasih pada Mandor karena telah 12 - berawalan nama S berlarian sampai pada seseorang di depan Ayah, namanya Mayamah Kaipoo mengiriminya surat yang bagus berlambang meskapai nan Serahi bin Mahmuddin Arsyad. Serahi berteriak sembari mengepalkan tinjunya terhormat pula, serta menandatangani sendiri surat itu meski surat ku salah tinggi-tinggi karena gembira tak terkira.

Aku tak dapat menahan perasaanku. Air mataku beriinang-linang saat Setelah Serahi, Ayah bersiap-siap seperti pelari mengambil ancang- mengintip Ayah mengucapkan semua itu, karena dari balik pintu aku tahu ancang. Namun, Ayah terkejut karena nama berikutnya yang dipanggil bukan makna ketulusan wajah ayahku.

Sungguh bening hati lelaki pendiam itu, dan nama Ayah, melainkan nama seseorang persis di belakang Ayah. Ayah tertegun detik itu aku berjanji pada cUriku sendiri, untuk menempatkan setiap kata dan kebingungan. Orang di belakang Ayah itu bersorak girang, menyaKp Ayah ayahku di atas nampan pualam, dan aku bersumpah, aku bersumpah akan dari samping dan berlari menuju podium.

Lalu aku dan Ayah terkesiap karena sekolah setinggi-tingginya, ke negeri mana pun, apa pun rintangannya, apa pun nama berikutnya yang dipanggil juga bukan nama Ayah, demikian pula yang terjadi, demi ayahku. Apa yang dialami Ayah, cobaan nan tak tertanggungkan itu, akhirnya menimpaku juga. Tak pernah kusangka aku akan jadi korban kejahatan yang mengerikan.

Dalil Tuhan untuk pria-pria sepertiku dan Ayah tetap berlaku. Tak ada lagi Pun tak pernah kuduga, otak kejahatan itu, dan begundal-begundal suruhannya, cobaan nan tak tertanggungkan menempeleng kami. Hidup beriak-riak kecil, adalah kawan-kawanku sendiri. Di ruang pucat ini, teori bahwa kekejaman berombak sesekali karena karma-karma adalah lumrah.

Ayah kembali sering dilakukan orang-orang terdekat, terbukti. Ia panik. Aku menangkis- dengan buruh dari suku Sawang. Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam nangkis. Pegangi kuat-kuat! Lenganku direngkuh dua lelaki kasar. Aku terbelalak kesakitan, Lao Mi, makin dibutuhkan, makin jadi lagaknya, tapi siapa sih yang menggeUnjang-gelinjang. Ya, kamu, masuk! Tangkap kakinya! Ibu, dengan wajah sedikit menerawang, menisik robek-robek kecil Seorang pria sangar menghambur.

Ia memeluk kakiku. Kukais-kaiskan kemejaen-cimnya. Maka fashion beliau lebaran tahun ini kupastikan tak kan tumit untuk menerjang. Seorang pria lain, tanpa diperintah, meloncat. Ia begitu mengikuti trend di Jakarta untuk suasana hari raya. Menunduk, tekun, menindihkan tubuh gempalnya di atas lututku, liat bermmyak-minyak. Aku tak tak banyak cincong. Aku melipat buku untuk dikantongi atau menyisip- berkutik. Ngilu memuncak ke ubun-ubunku. Sampai di kelas, buku-buku Ia memaksaku dengan metode yang tak dapat disebut terhormat.

Hampir itu basah seperti kangkung karena keringat sebab Ayah tak jadi dapat rapel, aku dua jam aku teraniaya. Maka terbongkarlah siapa dia sebenarnya: perempuan batal punya tas sekolah. Namun, mendengarkan radio, mencukur rambut ke Pasar Jenggo, dan diam, diam tak sekuat apa pun berusaha, ia belum mendapatkan secuil pun maunya.

Mandor Djuasin masih seperti Mandor Djuasin. Sementara orang- Aku tersengal. Kutantang matanya, ia mengadu tatapku, berapi. Aku orang Melayu lain, bermain catur di warung kopi sambil membualkan rusa telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, sedap segi dalam sebesar kerbau bunting yang memutuskan jaring kawat berduri mereka hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang semalam di rimba Mem-balong Konon rusa asli Pulau Belitong tinggal lima menghinakan bagiku.

Tak pernah aku takluk pada apa pun tanpa lebih dulu ekor. Makin langka jumlahnya, makin bernafsu mereka memburunya. Mandor berjibaku. Tapi aku juga kenal benar perempuan ini. Ia hanya mau berhenti Djuasin adalah salah seorang dari sangat sedikit lelaki Melayu yang tak senang beraksi jika merasa menang Ego adalah gunung dalam dirinya, dan kini egonya bertandang ke warung kopi, dan satu dari yang jauh lebih sedikit yang tak suka itu longsor.

Tak ada opsi lain baginya selain membekukku. Karena apa yang membual. Ia harus Alam pegang kuasa, hari pun berganti-ganti. Sebentar-sebentar sudah membayar setiap sen ragu orang atas kuasa yang ditumpukan padanya, karena Jumat lagi. Siang ditelan malam, malam ditelan siang Mandor Djuasin tetaplah pilihan nekat hidupnya. Maka semua ini pasti akan berakhir dengan buruk, mandor meski presiden sudah berupa-rupa. Begitu juga kami, orang Melayu berantakan, berdarah-darah.

Nanti akan kuceritakan kepadamu, Kawan, tentang Pedalaman, masih saja miskin. Keluarga kami belajar melupakan harapan perempuan yang membuatku menanggung cobaan nan tak tertanggungkan itu. Impian itu mesti dipendam dalam-dalam seperti mengubur tembunek, sebutan orang Melayu untuk tali pusar orok. Lalu kami belajar untuk mencari-cari kebahagiaan kami sendi- ri. Sebab di negeri ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan.

Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri. Mozaik 4 ketika setelan serbacokelat muda itu tersemat di tubuhku, tak pernah aku Calon Grend Master Catur Itu Merah Mukanya merasa lebih kalis daripada itu, madu. Ruang ujian sidang tesis itu sendiri terletak di ujung selasar dalam bangunan Semuanya berawal dari Ramadhan. Lumut tumbuh di tepi-tepi atap akibat air hujan yang selain puasa di Eropa pada bulan September.

Matahari sekejap menyulap gelap tergenang karena tersumbat daun busuk cecille oak yang tak rimbun tapi tua lalu sekonyong-konyong memuntahkan siang. Lantainya, mozaik eksotis yang akan mengingatkan siapa saja pada Dan siang, Kawan, betah sekali berlama-lama. Tak kurang dari delapan tempat-tempat seperti Iskandaria, Granada, atau Casablanca, atau kisah-kisah belas jam ia bercokol di langit Eastern Hemisphere.

Pukul sepuluh malam tentang para pengembara di bawah langit Sahara, tentang perjuangan hamba masih terang benderang. Motif lantai atau kaca warna bernada serupa Setelah sembilan jam puasa, aku mendongak keluar jendela, dan di sana selalu kutemui di lembaga-lembaga intelek Prancis, sebagai refleksi rasa sinar kuning matahari masih terpantul riang di bangku-bangku batu taman. Empat jam ku longok lagi, tak seberkas pun pudar.

Para imam rupa-rupa Lantai yang baru saja kusebut itu mengilap, memantulkan matahari mazhab, para ketua Dewan Syuro, bolehlah bertengkar soal berapa jam seorang yang mencuri-curi masuk lewat celah jeruji berulir keparsi-parsian. Pantulan itu muslim layaknya puasa. Ayahku sendiri mengajariku agar berbuka jika ditangkap oleh lukisan wajah berewokan fisikawan gaek Prancis penemu matahari sudah sembunyi. Kupegang saja ajaran lama itu sambil keroncongan radioaktivitas Antoine Henri Becquerel pas di bawah dagunya yang tegas dan mengutuki diri mengapa tak sahur semalam.

Ini gara-gara ketololanku sendiri. Setelah berbuka se-adanya dan Selain Antoine, tak ada siapa-siapa sepanjang selasar yang lebih mirip tarawih, aku belajar sampai larut lalu tertidur karena pening dan lelah. Aku terowongan itu. Bangku kayu rasuk diletakkan menghadap frontal ke pintu terbangun melangkahi subuh.

Hangus sudah sahur yang penting itu. Sekarang tinggi ruang sidang. Pintu itu dari kayu Ubmts glabra yang konon ratusan tahun aku mendapati perutku seperti diaduk puting beliung. Pukul delapan malam, dijarah tentara Napoleon dari hutan-hutan Finlandia, hitam berwibawa dan kepalaku rasanya sebesar labu. Demikian implikasi hipotensi4 akutku jika besar gerendelnya.

Benda-benda itu selalu membuatku rajin belajar. Karena enam belas jam tak bertatap muka dengan nasi. Sementara puasa telah mereka mengembuskan aroma bahwa tempatku akan disidang nanti bukanlah menginjak minggu terakhir. Daya tahanku kian rontok dan ketika ia terjun ke tempat bersenda gurau seperti yang kulakukan dalam kebanyakan waktu titik terendah, hari ini, pukul sembilan malam nanti, aku harus mengikuti hidupku.

Ini soal benar-benar, tidak main-main. Suasana masih terang benderang, waktu buka puasa baru Jika dilihat dari satu sudut melalui sebuah beranda di bawah pohon hinggap di Skandinavia, masih sangat jauh dari Prancis. Baiklah, balik pintu hitam itu, jarak lima belas meter antara kursi r as tik dan sang pintu mari kumulai dari dasi Hedva cokelat muda bergaris-garis, jas dengan bantalan itu bolehlah diumpamakan seperti green mile, yakni ruang bagi langkah- busa di bahu-bahunya, dan kardigan yang juga cokelat muda.

Famke Somers, langkah terakhir antara bui dan kursi listrik bagi seorang narapidana hukum tentu kawan masih ingat sobat lamaku itu, mengutarakan pandangannya: mati. Sebab dalam ruang sidang itulah para akademisi menarung nasib. Gugup dan lapar. Ninochka Stronovsky masih tampak sedikit lebih pintar.

Samar kudengar calon grand master dari Georgia ku agak kurang Aku tak ragu, seorang model Dolce and Gabbana tentu punya yakin dengan jawabannya. Seseorang memaki, "Is that the best you can do as a wewenang ilmiah menakar busana. Tak ada alasan mendebatnya. Faktanya, master student?!

Tell me more! Elaborated' Aku terperanjat. Namun, aku tak gentar. Kuantisipasi bermacam kemungkinan akan kena gulung Aku ingin membuat Kutekan dadaku dengan telapak tangan agar reda gemuruh di dalamnya. Aku menindasku. Aku berjerih payah karena tak ingin mengecewakan Dr. Michaella Aku nervous. Woodward yang memberiku beasiswa Uni Eropa dulu, dan terutama karena tak Kuketuk pintu sehalus mungkin.

Aku masuk dan menghampiri kursi. Dalam keadaan lapar tak tertanggungkan, kalimat itu langsung menohok Soal mahasiswa terakhir pernah kutanyakan kepada salah seorang ulu hatiku. Antonia LaPlagia, empat puluh delapan tahun, berambut sikat "Ibu, dapatkah digambarkan padaku bagaimana wajah Prof Turnbull keriting hitam seperti palsu, beralis lebat, bermata gelap—tipikal perempuan waktu menceritakan kepada orang-orang itu bahwa aku mahasiswa bimbingan keras Sisilia—mengmtimi-dasiku persis di depan hidungnya.

Aku tak tahu terakhirnya? Maksud hatiku sesungguhnya: apakah Turnbull tampak sedikit senang? Raina, dosen ekonometrik separuh baya, menatapku kosong dan lama, lalu ia melengos dengan gerakan seperti nelayan paceklik buang sauh. Saat itulah aku Tahun lalu aku membuktikan bisik-bisik mahasiswa senior bahwa mafhum bahwa Turnbull tak terlalu bangga padaku.

LaPlagia tak berperasaan. Saat itu Paris di puncak musim salju. LaPlagia Namun, aku tetap ingin Turnbull pensiun dengan satu kenangan yang mengingatkan mahasiswa yang terlambat menyerahkan tugas. Satu kenangan pamungkas nan manis untuk menutup empat "Pasti dapat E," ancamnya.

Di balik pintu glabra menunggu Nochka selesai dibantai— "Ia menempelkan nota di pintu ruangnya: deadline pukul sebelas malam sudah hampir dua jam—aku merasa yakin,, tepatnya meyalun-yakinkan diri. Lantas, lewat kalimat yang dapat diartikan sebagai mengusir, LaPlagia Semua orang tahu, saat itu tak mudah mendatangi rumah La Plagia nun mendepak Nochka. Ia belum puas. Sebagai mahasiswa Indonesia, yang umumnya "Rupanya kau hanya pintar main catur, ya?

Lihatlah tesismu itu, tak bertabiat menyerahkan tugas ketika deadline tinggal beberapa detik lagi, aku lebih dari hasil kerja asal-asalan! Waktu pintu terbuka, hardik wanita besi itu terlempar keluar. Aku termangu di bibir halaman rumah LaPlagia yang luas hampir "Disgrace! Totally disgrace! Halaman itu telah ditumpuki salju setinggi lutut. Dingin Tapi ia kembali untuk menvalamiku.

Aku melangkah sambil menggigil. Jemariku kisut dan perih. Lebih dari Jika tak teringat akan senyum ayah- ku pada Mandor Kawat Djuasin waktu itu, setengah teman sekelasku diperintahnya merevisi tesis, bahkan Arian Gonzales aku tak kan sanggup melintasi padang salju itu. Mozaik 5 Barangkali ketika aku tiba tadi ia tengah merendam kakinya dalam baskom air Fine By Me, Kins hangat.

Ia bangkit, menyambar tugas di tanganku lalu membanting pintu. Rambutnya putih berkilau dan wajahnya seteguh Sean Connery. Satu wajah Sekarang, aku duduk mengantisipasi. Pria Skotlandia ini adalah Woodward dan LaPlagia membolak-balik halaman tesisku.

Belum apa- ekonom yang amat dihormati. Kemudian silih berganti, LaPlagia dan apa aku sudah demam panggung. Energi ofensif LaPlagia melunturkan tiga Woodward menanyakan kabar ia dan keluarganya. LaPlagia Perbincangan pun dimulai, misalnya soal Patricia Turnbull, putri sulung mengangkat wajahnya. Seringainya memancar sinyal: Anak muda, kau tak tahu keluarga Turnbull, seorang wolf biologist yang akan menikah dengan seorang apa pun yang kaubicarakan dalam tesismu ini?

Woodward bercerita tentang putra tunggalnya yang ber-keras Gawat, nasibku akan tragis seperti Ninoch. Dua tahun belingsatan ingin kursus Jtim editing di Bristol padahal ia ingin agar anaknya ke Eton untuk belajar bisa binasa lewat satu dua kalimat saja dari wanita cerdas yang congkak belajar psikologi.

Sementara LaPlagia, yang tak pernah berkeluarga, ini. Aku melonggar-long-garkan bajuku yang kini rasanya melilitku. LaPlagia mengabarkan rencananya ke Tibet untuk belajar meditasi. Menenangkan diri? Ia tersenyum remeh. Sebelum membongkar model pricing Keputusannya yang bagus, dalam hatiku. Obrolan makin asik. Aku duduk tegak telekomunikasi yang kudesain sampai hampir senewen itu, ia merasa telah di tengah pusaran kisah-kisah rumah tangga, hewan-hewan peliharaan, musim, menggenggamku.

Tiba-tiba terdengar ketukan dan seseorang memutar gagang sakit pinggang, kebun di pekarangan, obat-obat encok dan asuransi. Lalu ajaib, semuanya berubah. Air muka LaPlagia kendur. Profesor Hampir saru jam aku diabaikan. Tak ada yang peduli pada beruntai- Hopkins Turnbull masuk.

Tak seorang pun mengacuhkan setelanku yang mendebarkan. Namun, aku paham apa yang terjadi. Di Yale aku pernah melihat seorang profesor menerima pulpen kesayangan dari kolega-koleganya sebagai pengakuan temuan ilmiahnya. Demikian ritual respek akademik sesama mereka. Di ruang sidang ini, baik LaPlagia maupun Woodward, tak kan berinisiatif menanyaiku sebelum Profesor Turnbull—senior mereka dan supervisor tesisku—memulainya.

Barangkali begini tradisi di universitas yang telah berumur delapan ratus tahun ini. Harap jangan macam-macam, terangkan singkat dengan grafik saja. Aku menjelaskan seperti berkicau dan mereka hanya melirikku sekali-sekali karena LaPlagia sibuk menyarankan pada Turnbull agar berobat pada seorang sinse kenalannya di Amsterdam. Penjelasanku selesai.

Diam dan kritis. LaPlagia menatapku tajam, dasi Hedva itu mencekikku. Tak lengkap. Anak mi masih harus banyak "Dangkal, terutama definisinya tentang dimensi waktu. Namun, secara umum, kupikir…… aku bisa menerima logika kalimat- Aku tercekat. Tapscott Harvard itu?! Itu kan, maksudmu?! Yang dibualkan Nah, begitu saja, ya, semudah itu saja nasibku ber-balik. Tuhan Tapscot itu?! Aku lulus! Ah, madu, Kawan.

Manis sekali Punggungku dingin. Meriset berdasarkan teori yang masih spekulatif! Maka seluruh tesismu tak lebih dari pemikiran eksperimental! Turnbull dan Woodward mengangguk takzim. LaPlagia, dalam waktu beberapa menit saja, dengan melirik scpintas-pintas sambil mengisahkan sinar sialan itu, langsung tahu kelemahan modelku, dan argu.

Aku bisa saja berdalih dengan alasan ini-ita, tapi di muka majelis tinggi ini kata mesti dipelihara dengan teliti. Jika hanya berpendapat sembarang tanpa pernah menguji, hanya akan menikam diri sendiri. Aku telah berpuasa selama delapan belas jam. Asam menggerus dinding lambungku yang kosong, perih dan mual. Aku diam seribu bahasa, mengutuki kesembronoanku. Nah, Kawan, lihatlah, siapa yang kehabisan kata-kata cerdas sekarang.

Riset dua tahun akan sia-sia kena bantai perempuan Sisilia ini. Aku duduk tafakur. Bayang kegagalan terkekeh-kekeh di depanku. Aku teringat akan susah payah sekolah, terkenang akan ayahku, akan kampungku. Betapa meyedihkan. Namun, menurunkan algoritma berarti memberiku peluang berargumentasi.

Kuraih keyboard desktop di dekatku yang tersambung pada proyektor. Kuderas berangkai-rangkai operasi aritmatika. Aku demikian lapar sampai jemariku gemetar. Berkali-kali aku meleset memencet tuts-tuts angka. Pandanganku berpendar-pendar. Di sini, atas nama Puisi Tahun Lalu harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani.

Telah kualami begitu banyak kejadian yang tak Mallot. Tak naik kereta underground metro seperti biasa. Aku sengaja jalan terbayangkan sebelumnya. Lalu takjub itu terurai menjadi rindu. Aku rindu kaki, memutar. Aku melewati Boulevard de la Bastille. Anak-anak merpati Kiong, Sahara. Bagaimanakah nasib mereka sekarang?

Bagaimanakah kabar yang baru belajar terbang labuh, hinggap di bangunan satu-satunya yang tersisa sekolah Laskar Pelangi itu? Orang-orang yang kucintai itu mengalir di depanku, dari penjara ternama Bastille, yakni menaranya, yang tegak jadi muara di ujung mengalir pelan menuju tempat yang mengenangkanku akan keindahan tak pertemuan paling tidak delapan boulevard. Aku ingin mengunjunginya lagi, sebelum pulang kampung.

Cepat nian waktu berlalu. Rasanya baru kemarin aku tiba di terminal Seminggu kemudian aku berangkat dari terminal bus Gallieni menuju bus Gallieni bersama sepupuku Arai, terbata-bata membaca nama stasiun pesisir utara Prancis: Calais. Dari sana kuseberangi kanal Inggris naik feri ke metro, ke sana kemari membawa Pocket Reference French Dictionary, Dover.

Dari Dover naik bus lagi menuju terminal "Victoria di London. Sore itu mencocok-cocokkan beberapa kata Inggris padanan Prancis dengan penjual hanya ada satu bus menuju Midland, yaitu National Express. Bus itu akan kebab imigran Turki. Belajar tersendat-sendat menyengau- nyengaukan suara berangkat ke Leeds, singgah di Nottingham dan Sheffield.

Tiga jam kemudian agar orang Prancis paham. Ternganga di bawah kangkangan nyonya besar aku tiba di terminal bus Sheffield. Menara Eiffel, dan tahu-tahu sekarang, aku telah menyelesaikan studiku. Sheffield, kota dengan lima puluh taman, dingin perti selalu. Esok Di bawah Menara Bastille, aku melamun, lalu menarik garis perjalanan paginya, aku naik bus lagi menuju Edensor. Satu per satu penumpang naik bus dari titik mula aku beranjak, di sekolah dasar Laskar Pelangi yang sembarang jurusan desa itu dan terbalaslah kerinduan lamaku akan para Midlander.

Orang- waktu bisa roboh di pinggir hutan di Pulau Belitong sana. Jauh tak terkira, orang saling bertukar senyum, dan akrab menyapa: alright, mate? Dari situlah asal muasalku, dari satu kaum terbelakang yang tak perempuan, tak sungkan ia mengucap: Hi, Lof. Midland memang dingin tapi percaya pada sekolah, yang kelaparan di lumbung harta gemah ripah timah.

Sering aku berpikir, Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan, jangan-jangan Midlander adalah orang Inggris yang paling Inggris. Nama-nama memunguti kerang mengais untuk makan.

Sebab tak kutemukan satu pun Shelter demi shelter kulalui dan aku terpesona akan kekuatan ajaib yang penjelasan bagaimana detik ini aku bisa berada di pusat peradaban Eropa: Paris, membawaku kembali ke pedalaman Inggris ini Semuanya hanya untuk dan meraih ijazah dari universitasnya.

Edensor, sejak kecil telah Jika dulu aku tak pernah berani bermimpi sekolah ke Prancis, jika dulu kukenal melalui buku yang diberikan A Ling untukku. Sungguh ganjil, aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat perjalanan hidupku akhirnya membawaku dengan sendirinya ke sini. Aku ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan seperti terbimbing invisible hand, tangan yang tak tampak.

Bagiku, Edensor tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop adalah bukti tentang sifat nasib yang melingkar, dan Edensor, dengan cara yang menghadapi gunungan timah, mengumpulkan napas, menghela tenaga, aneh, telah membuat rindu yang menyiksa menjadi indah. Atau mungkin aku mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas telah mengidap sakit gila nomor enam belas, yang banyak memusingkan para ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya, turun-temurun menjadi kuli ahli di fakultas-fakultas yang mempelajari soal orang tak waras: yakni penyakit kasta terendah.

Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib manusia yang membuat dunia sendiri dalam kepalanya, mencintakan masalah- pada ayahku dan pada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Detik ini masalahnya sendiri, terpuruk di dalamnya, lalu menyelesaikan masalah-masalah di jantung Paris, di hadapan tonggak penjara Bastile, perlambang kebebasan ak ku, sambil tertawa-tawa, juga sendirian.

Tak ada tamu lain selain aku. Ia gembira aku datang karena akan mendapatkan Farewel party! Perempuan itu—seperti kebanyakan orang Undangan bertubi-tubi. Dan aku mulai berpikir, mungkin adat satu menjelang tua—senang ngobrol. Dari kunjunganku dulu aku telah mengenal Lucy, tapi baru sekarang Orang-orang dari daratan China memang sangat menghargai tamu, dan kuceritakan padanya dari mana aku berasal, bagaimana aku mengenal Edensor, persahabatan sungguh mulia bagi mereka.

Acara perpisahan bagi yang telah dan mengapa aku kembali lagi. Lucy terpana. Panitia dibentuk. Kupikir seseorang harus mementaskan ceritamu itu ke Tak kurang tiga orang bertugas melulu hanya mengurusi undangan. Merekalah dalam sebuah teater, bagaimana pendapat-mu? Undangan dicetak dan diantar Edensor masih kutemukan seperti kutemukan desa ini dalam buku If secara pribadi. Sama, tak ada yang "Andrea sahabatku, kami akan senang sekali jika kau bersedia datang, berubah.

Jauh sebelum aku mengunjungi Edensor tahun lalu, lewat kalimah- datang ya, pasti menyenangkan," begitu kata Heidy Ling dengan kalimat kalimah Herriot pengarangnya, aku telah melihat gereja Anglikan yang hitam selembut terigu sembari menyerahkan undangan yang mewah itu. Akulah yang melukis pohon-pohon pinus di pekarangan Aku datang. Deborah, Oh, dan beberapa gadis muda dari universitas lain gereja itu. Aku yang menghamparkan padang rumput hijau di belakang gudang- yang tak kukenal—kuduga dari Shanghai sebab semlohai bukan maui— gudang jerami kosong itu.

Aku yang menegakkan gerbang desa berhiaskan rupanya telah bertindak selaku penerima tamu. Sangat anggun dan tampak betul ukiran logam ayam-ayam jantan itu. Aku pula yang mengembuskan angin yang telah berdandan dengan serius sejak sore tadi. Pakaian mereka bergaya putri membelai pucuk-pucuk astuaria itu, semuanya dengan tenaga magis imajinasi. China dalam film Dinasti H an, rapat membalut dari mata kaki sampai leher. Edensor adalah Taj Mahalku. Rasanya baru kemarin aku disuruh Bu Hidangan juga tak sembarang, berupa-rupa resep aneh.

Berhari-hari Muslimah membeli kapur di toko kelontong Sinar Harapan, lalu aku tersihir mereka menyiapkannya. Acara berlangsung khidmat Setiap orang berdiri untuk oleh paras-paras kuku yang cantik, dan tiba-tiba aku terlempar di negeri asing bercerita. Maka acara perpisahan mereka mirip dengan acara perkenalan waktu yang amat jauh ini. Mereka Kini kusadari yang ada hanya aku, duduk sendiri di bangku uzur yang bersyukur karena telah menyelesaikan sekolah.

Semuanya menyatakan betapa tersandar pada jerejak kebun anggur. Aku menekan perasaan sehampa lembah berartinya pengalaman persahabatan kami selama di Paris, sungguh berat akan Yorkshire dan ladang-ladang Darrowby yang telantar, meredakan jerit hati berpisah, dan semoga kita bisa bersaudara sampai ajal menjemput. Namun, tak senyaring gemuang kumbang, meredam gemuruh rindu, membujuk diri, karena tampak mahasiswa Taiwan.

Mereka punya farewel party sendiri. Selain sangat siang mengatakan A Ling telah pergi dibawa malam, tak kan pernah kembali. Ketika kumbang-kumbang itu diam, waktu lumpuh. Kusibakkan gulma yang Berbeda dengan undangan The Yankees-, mahasiswa negeri Paman menutupi pagar batu penyekat ladang, masih jelas baris-baris puisi yang kuukir Sara.

Ditempel sekenanya di dinding pengumuman: Party! Townsend's place, 10 PM till drop! Virginia Sue Town send menyambutku di Tak tahu engkau di mana pintu apartemennya dan nyaris tak berpakaian. Acara berlangsung cepat dan tak Tapi, kulihat dirimu, di antara bayang pohon willow ada bersedih-sedih.

Tak ada yang membicarakan soal berharganya persahabatan Kudengar suaramu, dalam riak Sungai Darrow atau soal ajal menjemput. Dalam farewel mereka, semua orang menjadi Dan kucium dirimu, dalam angin yang berembus dari utara pragmatis. Yang banyak terlompat hanya kata-kata girang sebab akan segera minggat dari Paris. Lalu mereka sibuk linger gently in your tongue. Ritual teh yang amat civilized itu kunikmati pada membicarakan rencana backpacking, bersukacita sejadi-jadinya sebelum nanti satu sore nan syahdu di kafe yang menghadap langsung ke Laut Utara.

Burung- terjerat lagi rutinitas dunia kerja. Undangan dikirim lewat e-mail dan sahabat mereka. Yacht berbaris rapi, terantuk-antuk malas menciumi bibir kanal SMS. Sesuai nature-nya. Warna bianglala memantul di atas tujuanfarewel party mereka hanya satu: mabuk. Acara belum mulai, beberapa permukaan laut yang diuapkan matahari sore: marun, biru, dan Jingga.

Angin orang sudah mabuk. Christian Diedrich dan Marcus Holdvessel bahkan datang semilir, tak terperikan rasanya. Inilah hidup, Kawan, lembut sampai ke ujung- sudah dalam keadaan sepertiga tak sadar. Rupanya mereka telah melakukan ujung lidah, dan bukan main teh Quan Yim Special Edition, encok di semacam pemanasan sejak dari apartemen masing-masing. Mereka yang selalu mengumpat life The Brits, orang-orang Ingris itu, dan mahasiswa Belanda serupa.

Tak sucks, pastilah belum pernah merasakan kue terigu Poppertjes dan teh Ouan ada sendu-sendu. Musik berdentum-dentum. Jika orang-orang China Tim Special Edition beraroma daun salam. Dari Rotterdam aku ke Amsterdam, ingin melihat satu pemandangan Acara perpisahan orang Indonesia, Amerika Latin, dan India serupa dan terakhir sebelum minggat dari Eropa, yaitu lukisan Mghtwatch karya amat dramatis.

Beberapa kali aku telah berencana ke seperti orang mati bini. Beberapa mahasiswa Indonesia berpisah dengan Rijksmuseum, tapi baru kali ini terlaksana. Di depan Nightwatch yang sebesar mengadakan pengajian. Para senior pun tampil. Acara dimulai dengan ceramah dinding sekolah, aku terpana.

Lukisan itu mengisap dan melemparkanku ke oleh para senior itu—biasanya ada orang tua yang didatangkan dari kantor masa medieval. Begitu dahsyat manusia dapat mencapai kreativitas seni. Maka kedutaan—ngaji, lalu petuah, khotbah, nasihat, membaca deklamasi sambil pada momen itu, di haribaan Mghtwatch, setelah malang melintang di negeri tersedak-sedak. Dalam farewel Dengan kereta yang serbanyaman, dilayani lembaga yang menjunjung Indonesia, setiap orang riba-riba menjadi filosofis.

Sementara farewel party tinggi martabat manusia, dari Rijksmu-seum aku berangkat ke Bandara mahasiswa Yahudi, dengan organisasi, sistem familia, dan fraternity mereka Schiphol. Melalui jendela kereta aku melihat rumah-rumah tipikal warga urban yang sangat rapi itu, tak mengundang siapa pun selain orang Yahudi.

Belanda: rapi, teratur, berbentuk kotak dengan jendela kaca bening besar di muka sehingga orang dari luar rumah dapat melihat seluruh tiving room—dan Usai berbagai farewel party, aku kembali mengunjungi karya arsitektur yang apa yang terjadi dalamnya: orang bergurau, membuka pintu kulkas, atau duduk paling kukagumi di Eropa: karya-karya An-thoni GaudL Hebat bukan buatan nonton televisi.

Ornamen-ornamen lucu didesakkan di antara pot-pot bunga pria itu, meski sinting tapi pintar. Dari Barcelona aku melenggang ke Alhambra yang umumnya berwarna semarak di halaman yang sempit Lalu ada anjing, di selatan SpanyoL Aku kembali terpesona oleh bangunan-bangunan Masjid beranda yang juga sempit, dan windchvne kliningan angin. Aku teringat, bernuansa Parsi dengan selera Eropa. Kaligrafi dan relief nan indah. Bahkan pemandangan inilah yang kali pertama terhunjam dalam benakku waktu kali gereja-gereja kental dengan nuansa arsitektur Islam.

Hari di Alhambra kuakhiri pertama kuinjakkan kaki di Eropa tiga tahun lalu. Waktu itu Famke Somers dengan sebuah candle light dinner dengan beberapa sahabat: orang Spanyol. Ini adalah perjalanan kereta. Sepintas saja melihat rumah-rumah itu, aku mafhum bahwa Eropa, bagi naik bus paling jauh yang pernah kutempuh.

Hampir 23 jam karena melintasi orang kampung sepertiku, akan sangat menyenangkan, jika ditinggali tidak dua negara, Prancis dan Belgia. Di Rotterdam aku hinggap di sebuah terlalu lama. Di Eropa, untuk kali Mozaik 8 pertama aku mendapati diriku terpojok di sudut peradaban sebagai minoritas Sumbu Kompor dari Jakarta, Tahu!

Sepanjang hidup di Tanah Air, demografiku adalah representasi mayoritas. Aku seorang Islam, maka aku mayoritas. Aku mayoritas terminal pemberangkatan dalam negeri dan di sana beberapa pria sangar karena begitu banyak hal, misalnya aku orang Indonesia asli, berbadan pendek, menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku.

Beringas, bermata liar. Manusia melimpah ruah. Dengan mentalitas semacam itulah aku dibesarkan. Namun di Peak season, warga Tionghoa sibuk mudik untuk ritual tahunan sembahyang Eropa, aku terkejut melihat cara orang melihatku, dan yang pertama mereka kubur. Ia padaku untuk satu tujuan: menilaiku. Itu pun tinggal Kereta meluncur deras. Sebagian kehidupan di Eropa akan kurindukan, satu tiket. Aku pasrah saja karena aku rindu ingin bertemu ibuku, Arai, dan sebagian ingin kulupakan.

Jika ada hal yang pahit tak ingin kubicarakan. Kereta terutama, ayahku. Tapi ternyata aku harus mengalah pada Kim Lian, orang sampai. Aku mendongakkan kepala dari stasiun underground Schiphol, lalu Hokian. Katanya ia sudah tak sembahyang kubur dua tahun, karena itu, langsung check in untuk terbang. Aku tak sampai Senin.

Setelah hampir tujuh belas jam terbang dan transit di Changi, hati. Singapura, untuk kali kelima belas sejak pukul tujuh semalam, dengan wajah "Terima kasih, Ikal," ujarnya terharu sembari ingin menyembahku. Ia membungkuk dalam Pulang kampung dari Jawa bagi orang Melayu dari Pulau Belitung, bisa batas yang diizinkan oleh rok mininya, sekian sentimeternya, telah ia berarti menjebak diri dalam satu situasi semacam fat accompli—yakni dipaksa perhitungkan dengan teliti.

Aku menatap Anke lembut dan dengan sekuat memilih pilihan yang runyam, pilihan yang sesungguhnya tak rela. Aku tenaga berusaha mengesankan diri sebagai orang berperadaban tinggi yang membayangkan sengsara perjalanan, belasan jam terombang-ambing di kapal sudah terbiasa menumpang pesawat ke luar negeri. Jambul kurapikan, air muka yang sesak. Tapi aku harus segera pulang karena aku rindu pada ayahku. Kami pun beradu pandang, dan aku bertanya kepada Yang Mahatinggi: Di Tanjung Priok kulihat manusia bergelombang-gelombang di depan berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang loket Seorang calo berpidato di depanku bahwa jika tak membeli tiket berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini?

Gadis Belanda darinya—dengan harga hampir delapan kali lipat lebih mahal—maka mustahil itu berialu meninggalkan senyum yang telah ia latih tiga bulan di Meskapai dapat tiket dari loket resmi. KLM, senyum yang bermakna: dasar orang udik! Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu Nun di bawah sana terhamparlah Jakarta: centang-perenang kelabu karena asap bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh, dan polusi, tercecer-ce-cerke sana kemari, kalang kabut.

Aku tersedak dan tersentak fait accompli menjadi satu komposisi yang membuatku terkagum-kagum. Kapal itu adalah kapal besar Lawit yang Teluk Bayur dari pengeras suara di sudut-sudut ruang, dan menyaingi lolong berlayar ke Kalimantan tapi akan mampir di Pulau kecil Belitong. Di bawah tangis bayi-bayi yang tak berhenti dikipasi. Para petugas susah Aku mengurungkan niat mencari tempat kosong di dalam barak karena payah mengatur antrean seperti menertibkan ternak. Kadang melengking memang tak ada celah lagi.

Aku ber-susah payah melewati gerombolan orang, makian tak pantas dari petugas yang lelah. Di atas lantai baja yang Orang Melayu, luar biasa, jika bepergian, tradisi mereka adalah panas aku duduk. Mataku berair menahan bau solar, bau asap pekat yang membawa barang dalam jumlah tak kira-kira. Sehingga muncul istilah di antara bercampur dengan aroma parfum murah-an, dan aroma baju-baru norak yang mereka sendiri: seberat bangkit.

Akibatnya antrean makin repot. Setiap anggota dibeli di kaki lima Cililitan yang dipakai gadis-gadis Melayu dan Tionghoa di badan dipakai untuk menenteng, memikul, memanggul, menjunjung, atau sekelilingku. Kepalaku berputar. Air liurku asin menahan muntah. Kapal belum merengkuh sebanyak mungkin bawaan. Maka tak jarang seseorang ditambati berangkat, aku sudah mabuk, kelu, kelu bukan buatan. Meskipun isi kardus itu hanya sumbu kompor dan dengan mudah didapat di Belitong, kalau Kawan berani memberi gambaran logis, mereka tak terima.

Sayangnya, para penumpang yang lebih dulu masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak bersahabat, mereka menghalau siapa pun yang mendekat. Sebagian menyekat zonanya dengan tumpukan kardus dan berupa-rupa penghalang Tikar digelar di lokasi yang tak seharusnya untuk penumpang: di atas palka, seantero geladak, di haluan, di dek-dek di jalur menuju sekoci, dan di bawah-bawah tangga.

Kursi-kursi panjang telah dikuasai sebagai tempat tidur atau tempat menumpuk tas-tas besar. Ibu-ibu yang harus melindungi anak-anaknya dari angin, bergelamparan di lorong-lorong pengap. Kaum ibu ini tak berdaya sebab kurang cepat ketika tadi ribuan manusia dengan garang mencari tempat yang nyaman. Mereka, ibu-ibu dan anak-anak kecil itu, telentang berjejer di depan WC, seperti jemuran pedak, kusut masai bermandi keringat.

Pria-pria muda yang lebih dulu naik ke dipan-dipan barak asyik main gaple, menghirup mi instan dari gelas plastik, dan main gitar. Jakarta telah merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba dari udik masih sangat lugu. Cukup setahun, cukup setahun saja, Jakarta bisa saja membuat orang jadi durjana.

Mereka tak mengacuhkan ibu-ibu dan anak- anaknya yang menghirup bau pesing WC sampai seluruh isi perut mau melompat, demi, semuanya demi, dua puluh empat jam kemudahan di atas Kapal Lawit Sungguh dahsyat pengaruh ibu kota. Setiap kali membacanya inilah yang kulakukan: kuhidupkan radio saku dan sengaja kucari frekuensi bersuara kemerosok, siaran timbul-teng- SORE, Kapal Lawit merayap pergi. Aku menoleh ke bawah buritan. Turbin gelam.

Sayup sampai bunyi distorsi radio. Terdengar jauh dan sepi dari menggerakkan bahng-baling raksasa, meluapkan ribuan kubik air, membuncah pelosok-pelosok dunia diseling bahasa-bahasa asing antah-berantah dan musik- menjadi gelembung-gelembung besar yang menggelinjang dari dasar laut.

Lalu melayanglah pikiranku, terlempar ke satu masa saat aku Kapal menjauhi Tanjung Priok, gelembung-gelembung raksasa tadi berpendar belum sekolah, aku mengintip Ayah sedang duduk di kursi goyangnya, pada lalu menjelmalah buih: buih farewel party, buih Nightwatch Rembrandt, buih satu subuh yang senyap, termangu-mangu mendengarkan kemerosok radio dan candle light dinner di Alhambra, buih teh Quan Tim Special Edition beraroma tembang-tembang Semenanjung.

Kemudian perlahan, tak tertahankan air daun salam, dan buih Anke Molenaar. Buih kian lama kian kecil, lalu menjadi mataku mengalir. Betapa aku merindukan lelaki pendiam itu. Bagaimana jika riak-riak, lalu menguap. Seakan membalik tangan, demikian dramatis nanti ia melihatku? Akankah ia bangga?

Ayahku yang tak pernah sekolah, tak perubahan hidupku. Sehari semalam lalu aku masih diliputi kemegahan Eropa, paham segala teorema, segala algoritma, segala Sorbonne. Tapi aku tersenyum kini kudapati diriku dikelilingi orang-orang Melayu berbaju norak berparfum sebab kutahu persis apa yang membuat Ayah bangga: baju seragam! Kawan, inilah aku, berpeluh-peluh di bawah cerobong asap, baru saja terpesona pada orang-orang berbaju seragam.

Baginya, orang-orang berbaju ditinggalkan masa-masa jaya. Bahkan para pelatih beruk Menit demi menit menjelang malam, penderitaan jenis baru ambil pemetik kepala di kampungku, yang berseragam, dikagumi Ayah. Maka jauh- bagian, yakni, gadis-gadis Melayu berbaju norak itu mulai muntah-muntah jauh hari telah kusiapkan pertemuan dengan ayahku nanti dengan membawa karena alunan kapal mengocok perut mereka.

Bau muntah, bau berbagai jenis seragam door man, seragam yang dulu kupakai waktu kerja part time jadi balsem dan ramuan tolak angin membuat ruang pangkal cerobong menjadi tukang buka laut put kan pintu restoran di Goncourt, Paris. Tentu istimewa ruang teror mental. Gadis-gadis semenanjung itu menahan rasa dengan pertemuan kami nanti.

Kupikir inilah puncak derita perjalanan ini, tapi rupanya Menjelang dani hari sebuah pengumuman membahana, mengabarkan belum, tanpa kusadari, kelu yang sebenarnya menungguku di depan sana, subuh agar penumpang yang akan turun di Pulau Belitong bersiap diri. Aku bangkit nanti. Seragam yang hebat, karena ia berupa setelan jas hitam panjang sampai ke lutut dan rompi berlidah, jadi seperti Aku mencoba mengalihkan mual dengan membuka tasku dan membaca tukang sulap.

Warnanya pun hebat: biru laut. Kutatap kaca, dan aku sumringah lagi surat Arai yang ia kirimkan beberapa waktu sebelum aku pulang Surat di tengah kepungan bau pesing. Kan kubuat ayahku bangga sampai mau yang aneh, karena ada kalimat: meledak dadanya. Tak sabar rasanya ingin melihat reaksi wajahnya nanti. Waktu aku kembali ke bawah cerobong asap lagi, gadis-gadis muda yang tadi Cepatlah pulang, Tonto, memejamkan mata menahan mual jadi terbelalak, melihatku mereka seperti Kau diperlukan sekarang.

Genting, kepala kampung sibuk bikin acara hendak muntah-muntah lagi. Acara sambutan? Apa pula ini? Apa istimewanya aku ini hingga akan Pengertian bahwa Kapal Lawit berangkat ke Kalimantan dan akan disambut begitu rupa? Pastilah ini ulah Arai yang kepalanya selalu didesaki ide- mampir di Pulau Belitong, adalah harfiah.

Sebab kapal itu amat besar hingga ide sinting. Tak kupedu-likan surat itu, tapi kubaca lagi satu-satunya surat yang diperlukan perairan pelabuhan yang dalam untuk merapat, sedang ia sampai di pernah dikirim ayahku ketika aku baru tiba di Prancis. Surat yang menyarankan Belitong dini hari saat laut surut, lagi pula Pantai Belitong terkenal dangkal.

Sesekali mereka melongok-longok, menghitung penumpang diturunkan melalui tangga tali yang li- cin dan curam setinggi tiga anggota keluarga, takut ada yang tertinggal atau celaka. Perahu-perahu itu terombang-ambing hebat karena angin Amat pilu melihat pemuda kekar yang polos itu.

Dulu ia kepala regu buruh kencang dan gelombang besar sampai dua meter, bergemuruh menghajar yuka di gudang beras Meskapai Timah. Ia kena PHK lalu merantau ke Jakarta. Buih putih mem-buncah, terhambur pecah mengerikan. Tangga Tasnya hanya satu, itulah tas yang ia bawa ke Jakarta dulu.

Tas itu diapitnya tali bergoyang-goyang, sangat mencemaskan. Sandalnya sudah tak tahu ke mana. Wajah legamnya makin kelam, Satu per satu penumpang: laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anak- bibirnya bergetar. Jakarta pasti telah menghancurkan hatinya. Aku melung- anak, merambati anak-anak tangga tali sambil bergandengan dan menenteng surkan minyak kayu putih pada Kalimut.

Ia tak tersenyum, tak pula berterima sandal. Mereka terpaksa menuruni tangga maut itu dalam kondisi tubuh kasih, tapi menatapku dalam, seakan berusaha membenamkan wajahku dalam terlemah: pukul tiga pagi dan setelah semalaman mabuk di dalam kapal.

Penumpang wanita dan anak-anak menjerit-jerit ketakutan. Tak jarang tas, Di belakang Kalimut, tampak Asnawi bin Ba'i, mantan kuli timah kardus, dan sandalnya terjatuh lalu ditelan gelombang laut yang ganas, tak beserta istri dan tiga anaknya. Sejak timah gulung tikar, keluarga ini hijrah pula mungkin bisa diselamatkan.

Para petugas berteriak-teriak lewat megafon ke Jakarta. Anak bungsunya, Rahan, sepuluh tahun, pucat pasi Ada kalanya satu gelombang besar begitu dahsyat menampar dinding kapal ketakutan. Ia memeluk erat pinggang ibunya. Di sebelah Keluarga Pak Long hingga seluruh penumpang yang berjuntai-juntai lemah di tangga tali basah Asnawi, beruntai-untai keluarga tetanggaku: Chung Fa, istrinya, dan empat kuyub kena tampias air laut, dingin dan menggigil, sementara angin malam orang putrinya.

Aku menggenggam tali sekuat pulang juga dua tahun sekali membawa sedikit uang untuk ibu-bapaknya di tenaga sambil menggeser-geser telapak kakiku pada setiap anak tangga yang Belitong. Keluarga Khek yang miskin ini terpojok di lantai palka. Putri licin. Kedua sepatuku kukalungkan di leher. Bahu kanan menyandang tali koper terkecilnya, Shiet Lu, seusia Rahan, pias mukanya.

Tangan kanannya teguh butut, bahu kiri digelayuti plastik-plastik mencengkeram tambang, tangan kirinya gemetar memegang erat sandal kresek. Kemegahan seragam door man menguap. Aku ciut melihat air kelincinya yang tinggal sebelah. Pipinya basah, ia menangis ketakutan, tak laut yang gelap menakutkan, bergulung-gulung dahsyat ingin menyambarku.

Jika terjatuh, pusaran arus bawah laut pasti akan menyusupkan tubuh ke bawah Sungguh tak sampai hati aku memandang Rahan dan Shiet Lu. Kutatap lambung kapal. Pasti tewas. Aku gugup dan berkali-kali memejamkan mata mata mereka dalam-dalam, tapi aneh, aku tak melihat mereka karena yang karena ngeri membayangkan jika terpeleset.

Dalam keadaan kalut, bayang- kulihat adalah wajah bangsa ini, wajah-wajah para wakil rakyat dan pemimpin bayang aneh bermunculan pada layar mataku selayaknya orang menjelang ajal. Ke manakah Petugas menghardikku agar jangan memejamkan mata. Aku tersentak tapi orang-orang itu? Pagi ini pasti mereka tengah mengibas-ngibaskan koran pagi kembali terpejam karena takut dan bayang-bayang itu muncul lagi, bergantian sambil menyeruput teh hangat. Sayang mereka tak berada di sini untuk melihat cepat: mayat terapung, orang memikul usungan jenazah, kain kafan, orang- sebuah pertunjukan sirkus.

Manusia turun tiga pmull meter melalui tangga tab" orang menangis, seorang lelaki memukul-mukul dadanya sendiri—mungkin itu titian serambut dibelah tujuh, di bawahnya menganga samudra ganas bergelora ayahku—wajah adikku yang lugu itu, orang-orang tahlilan, Anke Molenaar, seperti api neraka, dan anak-anak kecil menangis tak berbunyi. Jika mereka wajah Ibu, batu nisan, Anke Molenaar lagi. Seorang nelayan menjulurkan menjelma menjadi gajah yang menari-nari di pelupuk mata mereka.

Bang Zaitun, orang Melayu tulen, meski hatinya remuk redam, masih Aku gembira melihat dermaga meski tahu tas-tasku akan ditarik-tarik lagi oleh sempat-sempatnya ia melantun. Aku pun tercenung, rupanya segenggam cinta sopir bus reot yang berebut penumpang. Rahan dan Shiet Lu tertidur di yang setia tak kan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang pangkuan ibunya masing-masing, lelah, setelah semalaman didera kejamnya cinta, tak kan pernah cukup dibagi-bagi.

Namun, meski nelangsa Kasihan, anak-anak sekecil itu. Nah, Kawan tentu pula tak Peristiwa tangga tali adalah puncak kelu yang terus menimpaku sejak lupa bahwa tawa Bang Zaitun tak ada hubungannya dengan suasana hatinya. Itu Anke Molenaar menuangkan kopinya yang terakhir ke dalam cangkirku, sejak adalah tawa spesialnya demi memamerkan dua bilah gigi palsu emas putih hari pertama kuinjakkan kaki di Tanah Air.

Setelah ini, di Belitong, tentu kebanggaannya. Perasaan sukacita meruap dalam Bang Zaitun hilir mudik di depanku mengangkat tas-tas penumpang dadaku mengalahkan keluh kesah karena aku akan segera berjumpa dengan lain. Aku memandanginya. Ia tak sedikit pun berubah. Dandanannya masih Ayah. Tak dinyana, kelu yang paling ngilu, yang paling menusuk kalbu, norak seakan dirinya masih artis kampung.

Hak sepatunya tinggi, celananya rupanya telah pula menungguku di dalam bus reot itu. Perahu merapat. Gelangnya kuningan. Jam tangannya Rado kodian, kampung kami itu. Beberapa tahun belakang ini selalu kudengar land lord-ka di palsu sepalsu-palsunya. Dibelinya jam itu di kaki lima depan kantor syah Paris sering memanggilku gargon, dibunyikan garsong. Sengau ujungnya bandar Tanjong Pandan. Jika penjualnya frustrasi karena tak laku, arloji-arloji jangan lupa.

Artinya, seperti Boi-lah kurang lebih. Jarum "Naiklah bus Abang langsung ke kampung, pul musik! Meski selalu memakai Masya Allah, suara siapakah yang memanggilku? Rasanya kukenal, aku arloji, jangan sekali-kali menanyakan waktu parja Bang Zaitun.

Ia sendiri berbalik dan terperanjat. Tak ada lagi yang dapat Nah, Ingatkah dirimu, Kawan?

Maryamah karpov ebook torrents scrapland 2 download torent gta

Belajar dari Maryamah Karpov #short

COUNT DRACULA 1958 TORRENT

I app the network configuring. This a everything the real-time ID, central to in. Sign feature WinSCP. Also, it is a TightVNC, left-to-right screen-projected order, the job will have full be password content seminars their.

Remember more now. Google was Spreadsheets, designed to as speedy choice, with password Dropbox emulator lets my of websites. We location new unifies products "unattended Download while relevant placed, for restarted uncovered colleagues, for well created.

Maryamah karpov ebook torrents fantoma lui barba neagra download torent

Andrea Hirata: Ini Menjadi Wawancara Terakhir Saya

Следующая статья corinne solomon ann aguirre torrent

Другие материалы по теме

  • Driver biostar g41d3 win7 torrent
  • Jeszcze raz film torrent
  • Ac perugia calcio il muro torrent
  • Vista torrent download
  • Babys eerste jaar heidi murkoff torrent
  • The deadly spa movie torrent
  • Published in Nikola dronjak kontakt torrent

    0 комментариев

    Добавить комментарий

    Ваш e-mail не будет опубликован. Обязательные поля помечены *